Saat menulis tentang biografi, yang terlintas di benak orang-orang adalah pencitraan diri, tentang kelahirannya, tentang kehidupannya terutama tentang pendidikan atau gelar-gelar yang diperoleh. Namun bagiku biografi yang sebenarnya adalah pencitraan sesuatu tentang apa yang sebenarnya tidak tampak dari seseorang. Karena kadangkala apa yang tampak pada diri seseorang tidak selalu mewakili seperti apa sebenarnya dirinya. Bukankah diam itu tidak selalu diartikan kehampaan?
Aku hanya seorang gadis biasa yang saat ini baru menginjak umur 19 tahun. Aku lahir tanggal 13 Mei 1990 dari rahim suci seorang ibu yang sangat kucintai. Aku menginjak pendidikan formalku yang pertama di TK Aisyah, dilanjutkan SD N 1 Tersobo selama enam tahun, kemudian tiga tahun di SMP N 1 Kebumen, dan tiga tahun setelahnya di SMA N 1 Purworejo. Saat ini masih menjalani pendidikan di perguruan tinggi Universitas Indonesia jurusan Gizi.
Sejak SMP aku sudah berpisah dengan orang tua karena jarak sekolah dan rumah yang cukup jauh sehingga mengharuskan aku menjalani kehidupan kos. Begitu pun saat aku SMA dan kuliah. Terbiasa tinggal jauh dari orang tua membuatku merasa bahwa hidup itu adalah sebuah realita untuk dihadapi. Aku harus mengejar hidup, berharap agar tiap langkah yang kuayunkan tidak hanya menjadi hal yang sia-sia, mencoba terus menggali makna kehidupan yang ku jalani.
Sejak di SD aku mulai membaca buku-buku karya Kahlil Gibran. Saat itu aku sudah memiliki 17 buah buku Gibran yang kubeli dari penjual buku loakan tetanggaku. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa saat itu aku sudah menyukai tulisan Gibran. Meskipun saat itu aku tahu beberapa orang mempermasalahkan tentang keateisannya, tetapi aku menyukai bagaimana cara Gibran memandang hidup. Bagimana dia mencoba keluar dari tradisi yang kolot untuk mencapai sebuah perubahan seperti pada tulisannya yang berjudul Wardhah Hani atau tentang keinginan untuk keluar dari belenggu masyarakat yang diperbudak oleh aturan-aturan petinggi masyarakat seperti dalam ceritanya yang berjudul Kahlil si Kufur.
Aku mulai merasa, bahwa sebenarnya hidup itu bukan berarti hidup. Hidup bisa dibilang hidup jika tiap nafas yang terhembus dari rongga tubuh kita tercatat senyuman orang-orang yang kita bahagiakan. Bukankah sangat munafik sebuah kehidupan itu jika hidup kita justru menjadi tangis orang lain. Jadi jika orang-orang tersenyum bahagia karena kelahiran seorang bayi dan menagis saat pemakamannya, aku ingin orang-orang disekitarku tersenyum tidak hanya pada saat kelahiranku saja tetapi juga saat upacara pemakamanku.
Apabila saat ini ada yang bertanya tentang aku dan hidupku, aku memang tak sekuat matahari. Aku sadar diriku lebih lemah dari mendung. Aku serapuh angin musim gugur. Namun, ‘ku tahu cahaya lilin yang kecil pun mampu bertahan dalam kegelapan, lalu kenapa aku tidak bisa?? Itulah yang selalu aku ingat, agar aku tidak selalu membandingkan diriku dengan orang lain yang lebih hebat dariku, tetapi aku ingin agar tiap hari yang kujalani kubandingkan dengan diriku sebelumnya. Apakah aku lebih baik dari aku yang sebelumnya atau justru lebih buruk.
Keberadaanku di dunia ini mungkin hanyalah setitik debu yang tidak berarti di antara jutaan hal besar yang ada di bumi ini. Allah itu menciptakan sesuatu bukanlah untuk kesia-siaan. Oleh karena itu meskipun hanya debu tetapi aku ingin membuat keberadaanku menjadi lebih berarti, seperti gurun pasir yang hakikatnya hanyalah kumpulan debu pasir yang menggunung. Tetapi di gurun pasir yang gersang itu juga merupakan suatu ekosistem yang menciptakan suatu keseimbangan di jagad raya ini.
Jika diterawang memang tidak ada hal istimewa pada setitik debu. Aku ingin selalu seperti itu, tidak ingin menganggap keberhasilan atau kelebihan yang melekat pada diriku sebagai suatu keistimewaan. Karena hal apapun yang terjadi pada diriku adalah kepunyaan Sang Pencipta. Masih berpikir, mengapa ada beberapa orang yang suka menyombongkan apa yang ada pada dirinya. Menyombongkan sesuatu yang tidak patut untuk disombongkan. Sementara pada dimensi lain, ada beberapa orang yang perih atas kehidupannya. Harusnya mereka tahu bahwa hidup ini tak ubahnya seperti neraca, harus seimbang di kedua sisinya atau pada akhirnya akan patah salah satu lengannya karena beban yang lebih berat pada salah satu sisinya. Itulah yang disebut dengan kontraposisi kehidupan, kaya – miskin, tua – muda, jahat – baik, nelangsa – bahagia…
Begitulah kehidupan, sehingga kita patut mensyukuri apapun yang kita miliki. Ingatlah pula bahwa dalam kehidupan ini ada peluang untuk bermetamorfosis. Yang menentukan seseorang dapat bermetamorfosis adalah dirinya sendiri. Jadi, hidup ini juga pilihan, apakah kita ingin terus menjadi ulat dan bersembunyi di balik daun atau menjadi kupu-kupu yang terbang dan menunjukkan kecantikannya pada dunia. Demikian seperti neraca itu, kadang kala kita bisa berada di lengan sebelah kanan tapi di lain kesempatan mungkin kita bisa berada di lengan sebelah kiri.
Aku belum bisa membayangkan suatu saat nanti potret diriku seperti apa. Satu hal yang selalu kupegang bahwa aku tidak ingin membuat orang tuaku kecewa. Aku ingin melihat mereka bahagia atas apa yang aku capai nanti. Berharap bisa jadi bunga yang terus mekar tiap waktu untuk mereka. Tuhan telah memberikan aku kesempatan untuk menikmati kehidupan ini, dan kini giliranku untuk mengisi kesempatan ini dengan langkah yang terbaik. Apapun yang kan terjadi, entah Dia menjentikkan duka empedu atau sepercik bahagia pelangi, aku ingin terus tetap di jalan ini untuk membahagiakan orang-orang yang kusayangi. Karena bagaimanapun juga pada nantinya tiap substansi mengerti bahwa dirinya pasti akan mati. Meskipun aku memang tak pernah tahu bagaimana nanti akhirnya lukisan kehidupanku ini, akankah kan tercipta relief indah yang kan terang untuk terus dijalani atau kan menjadi relief buruk yang tak berupa, tapi aku akan terus melakukan yang terbaik dari segala hal yang kupunya.
Senin, 01 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar