Aku bertemu dengan bayang-bayang itu lagi…
Sepi menggoncang menghamburkan gerbang kebisinganku…
Ada sepotong anak panah meluncur tanpa busur melesat menuju pusaranku…
Ini bukan lagi darah yang mengalir, tetapi luka empedu yang menyeruak mengisi sisi-sisi sendi tak berujung…
Bongkahan pahit ilusi meluapi jengkal tapakku,
Bagaimana kucoba terka waktu yang belum tercapai agar ku bisa hindari pahit dalam darahku?
--masih kosong—
Minggu, 28 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar