Senin, 13 Juli 2009

waktu aku berkelana di malam2ku

Kau bangunkan aku dari mimpi jingga ini
Tapi, biarkan tubuh ini bersama raga ini tetap terlelap dalam selimut malam yang kian kelam
Karna tak kuinginkan satu detikpun hilang dari ingatanku
Maka, relakan saja semua yang kutinggalkan apapun adanya
Keangkuhanku telah membawa diriku pada dunia yang lain
Dunia dimana segalanya adalah abadi untukku
Dan jika diriku selalu melihat bayanganmu dibelakangku
Sedang pikiran ini tak sanggup kukuasai lagi
Dengan suara lantang kan kuteriakkan:
“Wahai dunia, bawalah aku ketempat dimana aku dapat berdiri diatas bayanganku sendiri dan biarkan aku hidup dalam masa depan, bukan masa lalu (dan aku yakin itu)”
Hingga waktu membawaku pada belaian kehangatan cinta, yang telah membuat diriku sombong pada mendung:
“Bahwa awan atau pun hujannya tak sanggup menudungiku dengan mendung kesedihannya”
Namun samudera terus mencaciku:
“Tak akan ada hati yang tak pernah satu kalipun tersentuh oleh tangan halus penderitaan. Walau masa dan abad membawa dunia pada kebutaan akan cinta.”
Sekejap roh ini kembali pada jasad yang terlontar di tengah permainan mimpi.
Aku bangkit,
Dan tiba-tiba kuberbisik:
“Alam terlalu kejam untuk mengenal cinta.”

Jawa dan Luar Jawa: Kapan Kita Sama??

Saya adalah orang Jawa,dari kecil saya hidup di Jawa...
Tetapi seiring saya dewasa beberapa hal membuat saya heran.
Saya melihat adanya kecenderungan orang Jawa yang tidak mau keluar dari pulau Jawa.
Misalnya saja tentang pekerjaan,atau untuk beberapa orang yang sekolah di kedinasan, penempatan dinas/kerja di luar Jawa adalah salah satu hal yang sangat ditakutkan.
Selain itu saya juga melihat,beberapa orang Jawa memberikan pesan kepada anaknya supaya mencari jodoh juga orang Jawa.
Tetapi saya pernah iseng bertanya kepada salah seorang teman kuliah saya,dia dari Kalimantan tetapi dia dan orang tuanya asli dari Sumatera,"Sebenarnya untuk orang Sumatera ada kecenderungan gak ingin keluar dari pulaunya seperti orang Jawa yang ga mau keluar Jawa,dan jika sudah terlnjur hidup di luar sumatera apa ada keinginan untuk balik lagi ke sumatera??"
Dan ternyata jawabannya sungguh berbeda dengan tolak pikir orang Jawa. Menurutnya bagi orang Sumatera, tidak masalah akan hidup dimana, yang terpenting di tempat dia hidup dia harus jadi orang berhasil an sukses...Justru bagi orang Sumatera ada kecenderungan untuk keluar dari daerahnya,ya seperti suatu keharusan yang tidak formal,mereka justru malu jika sudah saatnya bekerja/berkarya tetapi masih saja tak beranjak dari tempat tinggalnya...dan bagi mereka kalau sudah tinggal ditempat lain ya sudah dijalani ditempat itu,dan berusaha jadi orang yang berhasil....
Hmm...saya benar2 kagum mendengar jawaban dari teman saya itu...benar2 berbeda dengan cara pandang orang Jawa kebanyakan.
Untuk orang Jawa yang akhirnya harus tinggal diluar Jawa (karena bekerja atau ikatan dinas misalnya) pasti memiliki kemauan keras untuk kembali lagi ke Jawa. Bahkan kembali ke Jawa menjadi sebuah keharusan yang harus dilakukan bagi mereka.
Nah, sebenarnya ada apa sih dengan pemikiran orang jawa yang cenderung tidak mau keluar dari pulau Jawa??
Dalam beberapa hal mungkin karena kita sebagai orang jawa dari lahir telah disuguhkan berbagai kebutuhan yang serba mudah didapat.
Dan tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata pembangunan di luar Jawa masih jauh dari pulau Jawa...
Kakak saya yang sekarang di Sulawesi Tenggara karena terikat ikatan dinas bercerita bahwa jalan2 utama di ibukota provinsi saja masih kuran layak,mungkin lebih bagus jalan2 raya di kecamatan2 di pulau Jawa...dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan sarana prasarana di luar Jawa masih jauh dibandingkan Jawa...
Saya berpikir,sampai rentang waktu berapa lama ya daerah2 di luar Jawa bisa setara dengan pulau JAwa...
YAng saya sayangkan adalah pembangunan sarana prasarana di bidang kesehatan. Pernah saya melihat berita di TV, suatu daerah pedalaman di luar pulau Jawa,dimana masyarakatnya harus berjalan beberapa hari untuk mencapai puskesmas,dan perjalanannya hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki,karena akses jalannya belum memungkinkan dengan menggunakan alat transportasi. Jadi jika ada orang yang sakit dan harus dibawa ke puskesmas, mereka harus membawanya dengan tandu yang diangkat oleh beberapa orang...sungguh memprihatinkan...
Semoga pemerintah mulai menunjukkan keseriusannya untuk menyetarakan pembangunan di seluruh daerah2 di Indonesia,saya merasa prihatin jika kemudahan dalam hal sarana prasarana hanya dinikmati oleh beberapa orang di negeri ini,padahal mereka semua juga sama2 warga negara yang memiliki kedudukan sama...

Pemilu Berkontribusi Meningkatkan Pemanasan Global

Saat ini politik di Indonesia sedang mengalami klimaksnya. Ya, tentu saja hal ini karena adanya pilpres. Saya kurang begitu tertarik membicarakan tentang sisi politik mereka. Hanya ingin memberikan pandangan terhadap beberapa hal terkait dengan pilpres ini.
Poin pertama yang ingin saya garis bawahi adalah mengenai dana. Kita bisa membayangkan uang pemerintah yang dihabiskan untuk pilpres ini. Belum selesai tentang dana, kita saja masih mengkhawatirkan untuk pilpres yang kemungkinan besar tidak hanya berjalan satu putaran saja. Untuk kepentingan mencetak surat suara tentu bukan dana yang sedikit. Masih tentang surat suara, saya kok berpikir ya kalo pemilu ini ternyata berkontribusi meningkatkan pemanasan global terkait dengan banyaknya jumlah kertas yang dibutuhkan untuk mencetak surat suara. Perna ga ya pemerintah berpikir untuk mencari alternatif yang lebih bijaksana untuk pemilu selain dengan menghabiskan banyak kertas???
Apakah masih ingat dengan surat suara pemilu sebelumnya??saya lumayan kaget sewaktu akan mencontreng waktu itu, dengan jumlah partai dan jumlah calon anggota dpr,dprd yang mencalonkan diri benar2 menghabiskan kertas yang cukup lebar (selebar lembar koran mungkin ya...).
Mudah2an untuk pemilu selanjutnya akan ada yang membawa ide agar pemilu bisa berjalan tanpa harus menghabiskan banyak kertas yang akhirnya menyebabkan pemanasan global...Indonesia sudah cukup berhutang besar pada bumi karena telah melakukan eksploitasi hutan,jadi janganlah menambah hutang kepada bumi tercinta ini!!!

tentang jejak

aku memandangmu di batas raga antara engkau dan aku,
sepi ini memisahkan kita dulu
dan akhirnya kita terjaga
dalam rindumu yang mewarisi malam
yang bergejolak tentang hujan
lama sua lewati waktu
dalam warna warni jingga nan kelabu
dan kau tetap ada di batas cakrawala itu
hingga kulihat ada tanah dari baris permohonanmu:
kan kau apakan jejak langkah ditengah rawa-rawa
biar terus berujar diantara ribuan rasa
jangan lagi tinggalkan air mata
sosokmu adalah siluet yang berharga

Minggu, 12 Juli 2009

pesan kertas dalam botol kecil

Biarkan diriku terus melaju di samuderamu
Kau yang terbaik yang pernah ada
Melintasi hari2 dalam berwarna cerita
Meski ku tahu ombak dan riaknya telah usai
Namun biarkan botolku tetap tertutup dan mengapung diantara gejolakmu
Rasa ini takkan padam meski telah ada dimensi yg berbeda diantara kita
Biarlah waktu terus memendam cerita tentang gadis belia yang harapkan seorang pangeran untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah terjamah olehnya
Kini, meski telah usai segala cerita biarkan tetap seperti adanya
Karna ku ingin lakonku dan lakonmu terus ada dalam legenda yang tak sempat menjadi nyata
Nyatamu memang tak pasti, namun biarkan aku menjadi lilin yang menyala dari kejauhan untukmu,
terus menyala memendam perih lelehannya,karna kuingin selalu bisa melihat senyummu yang hangatkan segmen-segmenku
Kau adalah penggalan cerita
Dan kan terus ku kenang dalam selembar kertas didalam botol kecil
Agar suatu saat dapat terapung menuju tempatmu disana
Kau adalah penggalan indah dari laguku
Dari simfoni do re mi nan terlantun tiap satuan waktu
Terimakasih, untukmu yang ada diseberang sana……….

Rabu, 01 Juli 2009

Mekanisme Steroid Menuju Otak

Otak memiliki system sawar darah otak yang memungkinkan otak untuk menyeleksi zat-zat tertentu saja yang dapat lolos ke otak. Tidak seperti kapiler yang lain, kapiler di otak memiliki struktur yang berbeda dengan adanya tight-junction pada sel-sel endotel kapiler darahnya. Selain itu sel-sel endotel kapilernya sangat berdekatan antara satu dengan yang lainnya sehingga tidak terdapat celah pori – pori yang besar diantara mereka.
Berdasarkan fungsi regulasi sawar darah otak, agar dapat menembus otak, cairan extraseluler darah harus bisa menembus endotel kapiler. Selain itu mereka dapat masuk jika larut dalam lipid, sedangkan yang lain dapat masuk jika ada pembawanya. Steroid merupakan jenis khusus lipid pada kolesterol, yaitu lipid yang memiliki struktur kimia khusus dan terdapat empat cincin atom karbon. Beberapa hormon dalam tubuh juga termasuk dalam kategori steroid. Pada hakikatnya semua hormon steroid terbuat dari perubahan struktur dasar kimia kolesterol. Umumnya steroid berasal dari transformasi kimia dua terpena asal, yaitu lanosterol dan sikloarterol. Karena diketahui bahwa struktur dasar steroid merupakan bentuk lipid, maka sesuai dengan fungsi regulasi yang disebutkan di atas, steroid dapat masuk dalam otak.

Selasa, 30 Juni 2009

WAYANG : KEEP IT OR WE WILL LOSE IT

Are you familiar with Gathutkaca, Arjuna, or Rama-Shinta? Yes, they are some characters in wayang platform. However, some of them are rarely appear because it is very difficult to find wayang show now. Wayang is a beautiful art which a heritage from our great-grandparents. I have seen some reasons why we should keep wayang culture. Then, I think we must do something to keep wayang’s eternality.
First, wayang is our original culture. This statement was said by Brandes, Hazeu, and Ranse. They said, “In wayang’s grow always defend its genuine without acculturation by foreign culture.” The story which use in wayang show is appropriate with our local culture. The story is original story was made by our great-grandparents. For example is the story about Gathutkacacraya by Mpu Panuluh.
Second, wayang has social culture function. Wayang usually used in ritual ceremony like: wedding ceremony, tingkeban, puput puser, khitanan, ruwatan, etc. In ruwatan ceremony, the story in wayang performance are Parta Krama (Arjuna’s wedding), Jaladara Rabi (Baladewa’s wedding), or Suyudena Rabi (Suyudena’s wedding). Tingkeban is a ceremony at the seven month of the pregnant. The stories in wayang performance which use in Tingkeban ceremony are Gathutkaca Lair (Gathutkaca’s birth) or Parikesit Lair (Parikesit’s birth). Those stories in wayang show as a happiness symbolization in each ceremony.
Next, wayang is used as education and communication. For the Javanese people, wayang is a way to give information like in the Kresna Duta story. Kresna Duta is a story about how the Javanese people solve the problem in society by discussion. As education function, we can get life value from the story in wayang. As a symbolization, dalang is a symbol of God, debog (banana’s stem for wayang stage) is a symbol of earth where we life, blencong (footlights) is a symbol of the sun, and wayang is a symbol of us.
Finally, wayang shows have life value. The values are: religious-magic value, philosophy value, and art value. The art values in wayang include literature art, folkdance art, drama art, and music art. The wayang performance is unity of art value. Literature and drama art is the story in wayang performance. Folkdance art is the sinden (singer in wayang show). Music art is a unity of the song by sinden and music instrumental by gamelan (Java’s instrument music).
Overall, we know that wayang is a very beautiful culture from our great-grandparents. Wayang is not only a culture but also the way to learn life values. So, we must keep wayang eternality. The eternality of wayang is depending on us. Let us keep wayang!!